Sabtu, 18 Desember 2010

Taman Mini Indonesia Indah: Hiruk-Pikuk Dibalik Kemegahannya
Oleh
Ahmad Sohabudin[1]

Pembangunan hakekatnya adalah pembangunan manusia dan ditujukan Untuk kepentingan manusia. Sebab itu disamping pembangunan ekonomi kitapun harus membangun segi yang lain dari kehidupan kita: politik, sosial, budaya, pendidikan, mental dan sebagainya.

Soeharto
Pendahuluan
            Ketika  sampai kepada puncak kekuasaan tertinggi, menjadi presiden Republik Indonesia, setelah memegang sepucuk surat “ajaib” SUPERSEMAR yang dikukuhkan oleh hasil sidang umum IV MPRS tanggal 20 Juni-5 Juli 1966 melalui ketetapan MPRS No IX/MPRS/1966 tentang surat perintah presiden/panglima tertinggi ABRI/pemimpin besar revolusi/mandataris MPR, yang berisi tentang penyerahan kendali pemerintahan Indonesia berada dibawah kendali Soeharto, yang kemudian ditunjuk sebagai pejabat Presiden pada tanggal 7 maret 1967 dalam sidang istimewa MPRS, semenjak saat itu rencana atau langkah-langkah untuk membangun negeri ini dipersiapkan dan disusun oleh seorang Soeharto. Kalau pada masa Orde lama kita lihat pemerintah hanya sibuk membangun konsolidasi politik, namun ketika  Seoharto berkuasa terjadi dis-orientasi dalam pelaksanaan kebijakan. Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi menjadi prioritas utama dalam menjamin kelangsungan Republik yang baru ini. Fokus  pemerintah adalah segera keluar dari belenggu ekonomi dan badai konflik yang menjerat. Berupaya untuk menjamin kesejahteraan rakyat seluas-luasnya seperti yang diamanatkan UUD 1945.
Pragmatisme  ekonomi  nampak nyata dalam proses pengambilan kebijakan, alasan-alasan yang bersifat ideologis di kesampingkan. Faktor yang menjadi hambatan-hambatan  dalam upaya merangsang proses perbaikan ekonomi dipangkas. Arah politik-ekonomi berbalik 180°. Investasi asing yang menjadi musuh pada pemerintah Orde Lama dijadikan partner setia, kerjasama ekonomi dengan organisasi internasional di tanda-tangani  (IGGI & IMF), Tim ekonomi untuk melakukan lobi-lobi internasional dibentuk. Soeharto dan pembangunan ungkapan yang  cukup serasi kalau kita melakukan sebuah refleksi masa itu.
            Dalam merealisasikan cita-citanya, Soeharto memformulasikan pedoman pembangunan nasionalnya kedalam konsep Trilogi Pembangunan,  yang di interpretasikan dengan penyusunan  beberapa langkah strategis (Pelita I-VI). Dalam pelaksanaan pembangunannya, Soeharto  mencoba melakukan proses penyeimbangan pembangunan nasional seperti apa yang ia sampaikan saat berpidato di depan sidang paripurna DPR-GR tahun 1971” Pembangunan hakekatnya adalah pembangunan manusia dan ditujukan Untuk kepentingan manusia. Sebab itu disamping pembangunan ekonomi kitapun harus membangun segi yang lain dari kehidupan kita: politik, sosial, budaya, pendidikan, mental dan sebagainya “. Terlepas dari itu, semua  tetap bermuara pada tujuan akhir yaitu  berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.  
            Apa yang dikatakan Presiden diatas  memberikan inspirasi kepada Ibu Siti Hartinah atau yang biasa dikenal dengan Ibu Tien Soeharto. Ia menangkap, mengartikan dan  mencoba merealisasikan ungkapan presiden,   kalau Indonesia  perlu membuat sebuah bangunan yang bisa memberikan manfaat edukasi (spiritual) yang berbeda dengan pembangunan-pembangunan sebelumnya yang lebih mementingkan aspek ekonomis. Pembangunan yang hanya memapankan Indonesia pada hal-hal yang bersifat material semata. Oleh sebab  itu pada tanggal 13 Maret 1970 di Jalan Cendana No. 8 ia mengemukakan suatu cita-cita atau gagasan untuk mendirikan suatu tempat rekreasi yang mampu menggambarkan kebesaran dan keindahan tanah air Indonesia dalam bentuk mini diatas sebidang tanah yang cukup luas yang akan dinamakan Proyek Miniatur “Indonesia Indah”.  Ide pembuatan bangunan ini akan semakin kuat setelah Ibu Tien mengunjungi salah satu objek wisata terkemuka di Amerika Serikat “Disneyland” dan “Timland’ di Thailand saat menemani Pak Soeharto mengadakan lawatan kenegaraannya.
Dasar Pemikiran
            Tak ada yang pernah menyangkal kalau Indonesia merupakan sebuah “kamus kebudayaan”. Dari ujung barat sampai ujung timur kalau kita telusuri secara seksama hampir setiap daerah menampilkan kultur dan corak yang berbeda. Apabila kita melakukan proses inventarisasi, mencoba mendata, mencatat setiap apa yang telah kita temukan sulit membayangkan betapa banyak konsep-konsep kebudayaan yang akan terangkum. TMII dirancang untuk menghimpun segala macam aspek kebudayaan tersebut. Menjadi tempat yang bisa merepresentasikan tentang kekayaan cultural yang di miliki bangsa ini. TMII dimaksudkan dapat memberikan gambaran tentang keadaan tanah air Indonesia yang begitu luas dengan segala keindahannya.
            Proyek pembangunan TMII di nilai begitu  urgen dan kebutuhan yang begitu mendesak . TMII bisa menjadi sebuah symbol Kebhinekaan yang menciri khaskan kepribadian bangsa, menjadi alat peraga guna menghayati segala potensi, aspek dan prospek dari tanah air kita Indonesia. Proyek Miniatur Indonesia “Indonesia Indah” adalah proyek serba guna yang besar manfaatnya selain sebagai tempat rekreasi, juga mengandung unsur-unsur pembinaan dan pengembangan bangsa. Lebih dari itu, dari adanya proyek ini, kita akan mempunyai suatu alat peragaan yang permanen dan modern dengan qua nilai yang sesuai dengan kebesaran dan kejayaan bangsa Indonesia untuk lebih memperkenalkan Nusa bangsa kepada bangsa-bangsa lainnya. Sehingga dunia luar akan mempunyai gambaran yang lengkap, pengertian yang lebih baik dan pengetahuan yang lebih mendalam tentang apa, siapa dan bagaimana sesungguhnya Indonesia itu, disamping memberikan penambahan pengertian yang mendalam kepada seluruh lapisan masyarakat kita sendiri, sebagai bangsa yang merdeka yang harus mengetahui sejarah dan keagungan bangsanya. [2]
Sejarah Awal
            Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah awal pertama kali digagas oleh ibu Hartinah Soeharto. Ide ini dikemukakan pada tanggal 13 maret 1970 di jalan Cendana No. 8, di depan sejumlah pengurus Yayasan Harapan Kita. Ia mengemukakan suatu cita-cita atau gagasan untuk mendirikan suatu tempat rekreasi yang mampu menggambarkan kebesaran dan keindahan tanah air Indonesia dalam bentuk mini di atas sebidang tanah yang cukup luas yang akan dinamakan proyek miniatur Indonesia “Indonesia Indah”. Dalam rapat tersebut Ibu Tien menjelaskan rencananya bahwa dilokasi Proyek Miniatur itu akan dibangun sebuah kolam dengan pulau-pulau yang mewujudkan wilayah negara Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang terdiri dari lautan dan kepulauan yang ada di Indonesia berikut segenap flora dan faunanya, segenap penduduk dengan berbagai suku  bangsa, adat istiadat, agama dan kebudayaan daerahnya, dilengkapi dengan tempat-tempat dan fasilitas-fasilitas rekreasi yang mewujudkan keindahan dan kekayaan alam Indonesia. [3]
Ide ini langsung mendapat respon positif dari seluruh pengurus yayasan.  Merekapun membentuk panitia kecil yang nantinya bertugas untuk melakukan komunikasi dengan stakeholder terkait untuk menyusun segala persiapan yang harus dibutuhkan.  Hal yang pertama dilakukan adalah mencari lahan yang tepat untuk proyek ini. Panitiapun menemui pemerintah DKI Jakarta untuk mendapatkan areal tanah yang di butuhkan. Pada awalnya pemerintah DKI mengusulkan agar pembangunan ini dilakukan di wilayah Cempaka Putih-Jakarta Pusat, yang pada saat itu bisa menyediakan lahan sekitar 14 hektar. Namun, akhirnya keputusan ini di anulir melihat prospek kawasan ini dimasa depan. Muncullah rekomendasi yang kedua, yaitu diwilayah Pondok Gede, Kecamatan Bambu Apus, Jakarta Timur. Diareal tanah yang dahulunya berupa sawah dan kebun inilah nantiya disepakati dan menjadi  cikal-bakal TMII sekarang.
Untuk mewujudkan cita-cita yang maha besar ini, tentulah diperlukan dukungan yang cukup, baik secara moril dan  materil (Politik dan Ekonomi) agar proyek ini bisa terjamin keberlangsungannya. Ketika presiden mengadakan rapat kerja dengan Gubernur-Gubernur yang disertai Bupati-Bupati dan Walikota dari seluruh Indonesia yang penutupannya dilakukan tanggal 30 Januari 1971, Ibu Tien tidak melewatkan kesempatan yang begitu langka tersebut, ia memanfaatkan momentum itu untuk mengkampanyekan kepada peserta yang datang tentang rencana beliau membangun Proyek Miniatur Indonesia “Indonesia Indah”. Ia sangat berharap agar para peserta yang hadir setidaknya bisa memberikan masukan, saran, tentunya berpartisipasi mendukung program ini.
Semenjak launching tersebut, berita tentang proyek pembangunan ini beredar luas. Respons masyarakat pun bermunculan. Ada yang bernada mendukung, menanggapi positif program ini dan ada juga yang menolak, menganggap program ini sebagai pemborosan dan dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan. Kalau melakukan pemetaan kita bisa membaginya dengan berbagai macam kelompok.  Pertama: Golongan yang sepenuhnya mendukung, menganggap ini merupakan ide baik dan patut mendapatkan apresiasi sebagai wujud perimbangan dari pembangunan yang dinilainya serba materiil. Kedua: golongan yang setuju, namun dengan syarat pembangunan ini harus diletakan atas dasar komersial, tidak hanya bersifat monumental konsumtif semata. Ketiga: golongan yang setuju namun dalam pelaksanaannya diserahkan kepada pihak swasta nasional. Keempat: golongan yang setuju, namun dalam pelaksanaannya perlu ditunda, ditakutkan akan mempengaruhi perkembangan ekonomi nasional yang baru sembuh.[4] Kelima: kelompok yang menolak yang menganggap pembangunan ini hanya pemborosan semata, dan tidak relevan dengan asas pembangunan. Kelompok ini umummnya diwakili oleh sekelompok pelajar dan mahasiswa. Mereka melakukan  aksi turun kejalan, dan berdemonstrasi menuntut Soeharto untuk membatalkannya.

Gerakan Mahasiwa Anti-TMII[5]
Kelompok mahasiwa yang memberikan respons terhadap pembangunan TMII  datang dari wilayah Yogyakarta. Gerakan ini dipelopori oleh Anhar Gonggong[6] dan Mahadi Sinambela[7]. Mahasiswa menolak  karena proyek ini dianggap terlalu dipaksakan. Pembangunan Taman Mini hanya sekedar pembangunan untuk kepentingan bisnis semata. Pembangunan Taman Mini tidak relevan. Soeharto hanya mencari dalih untuk mengambil uang rakyat. Apalagi mastermain dibelakangnya hanya seorang Ibu negara. Ibu Tien tidak mempunyai hak untuk mengambil uang negara. Ia hanya seorang istri presiden yang kekuasaannya  bersifat inventaris. Kondisi Perekonomian dan Keuangan  Indonesia pada saat itu juga  belum memungkinkan untuk dilakukan proses realisasi. Kita tidak mempunyai uang untuk  membangun taman mini. Apalagi dalam perencanaanya daerahlah yang menanggung itu semua, daerah disuruh membayar sekian juta  rupiah untuk mengisi katalog/anjungan yang telah disediakan per-masing-masing wilayah. Mahasiswa menganggap itu terlalu membebani pemerintah daerah. Apalagi Yogyakarta yang wilayahnya tergolong  kecil. Soeharto melakukan  tindakan yang keliru,  salah dalam menggunakan  wewenangnya sebagai presiden.
            Umumnya mahasiswa menekankan alasannya  pada hal-hal yang bersifat ekonomis semata, tidak ke hal yang lain. Mahasiswa berangkat dari sebuah pemikiran  bahwa saat itu ada Konsensus dari pemerintah ia akan melakukan pembangunan yang memprioritaskan kesejahteraan rakyat.[8] Dalam pandangan mahasiswa TMII itu tidak tepat dan tidak menjadi prioritas pembangunan.
Mahasiswa Yogyakarta yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Anti TMII memusatkan  aksinya di depan kantor KOWILHAN  (Komando militer wilayah II Yogyakarta).  Jalannya aksi  demontrasi sama seperti yang dilakukan pada umumnya, mereka datang, berorasi dan memberikan pernyataan pendapat bahwa mereka menolak pembangunan TMII karena bertentangan dengan asas pembangunan. Setelah itu mereka membubarkan diri, tidak ada aksi anarkis yang dilakukan. Aksi demontrasi berlangsung secara kondusif.  Para mahasiswa tersadar, tentang inkonsistensi yang dilakukan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan karena sering dilakukan diskusi-diskusi  tentang TMII sebelum aksi turun ke jalan.
Respons pemerintah langsung tegas. Beberapa aktivis ditangkap. Penangkapan ini dilakukan ketika sejumlah mahasiswa telah kembali kerumah. Mahasiswa yang menjadi aktor intelektual dijemput oleh aparat keamanan. Mereka di bawa ke TPN dan ditahan beberapa hari disana.  Dilakukan proses Introgasi terhadap para mahasiswa. Mereka ditanya kenapa demontrasi, kenapa menolak TMII dll. Setelah itu mereka dibebaskan . Tentara yang mengintrogasi juga tidak melakukan tekanan, dia hanya bertanya saja.
Proyek TMII bisa dikatakan proyek akal-akalan yang dilakukan soeharto beserta kroninya. Mereka hanya mencari dalih untuk mengambil uang rakyat dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat.  Yayasan Harapan Kita  yang menjadi operasional pembangunan Taman Mini hanya dijadikan alat untuk mengeruk keuangan Negara. Proyek TMII merupakan awal korupsi yang dilakukan oleh soeharto pada masa pemerintahannya.
Pembangunan TMII dan Perkembangannya
             Walaupun Peristiwa pembangunan Taman Mini mendapatkan kecaman-kecaman, pemerintah menutup rapat-rapat  telinga mereka dari suara-suara yang di gemborkan oleh mahasiswa. Proyek pembangunan Taman Mini tetap berjalan. Segala macam atribut akomodasi dipersiapkan. Pembebasan lahan tetap dilakukan walaupun mendapatkan pertentangan baik oleh warga yang tanahnya tergusur maupun mereka yang ber-empati. Pemerintah menutup mata dalam kejadian ini.
            Yayasan Harapan Kita di tunjuk sebagai organisasi  pelaksana pembangunan proyek. Diketuai langsung oleh Ibu Hartinah Soeharto selaku penggagas dengan di bantu oleh beberapa  “Ibu-Ibu Pejabat”. Menurut perencanaan proyek ini akan dilaksanakan selama 8 tahun yang dibagi kedalam dua tahap. Tahap pertama meliputi pembangunan dalam waktu 2-3 tahun , dan tahap kedua meliputi tahap 4-5 tahun. [9] Pemerintah mulai membangun proyek tahap pertama pada tanggal 30 Juni 1972 setelah melalui proses feasibility study terlebih dahulu oleh Team Teknis ITB dan Biro Konsultan “Nusa Konsultan”. TMII secara resmi dibuka pada tanggal 20 april 1975 oleh presiden soeharto[10]. Status kepemilikan diserahkan secara symbolik kepada Negara, namun dalam pelaksanaan operasionalnya diserahkan kepada Yayasan Harapan Kita untuk melakukan pengelolaan.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan TMII dikenakan biaya masuk. Biaya yang dikenakan cukup murah. Pengelola beralasan hal ini dilakukan hanya sekedar menutupi biaya operasional TMII semata. TMII sengaja di bangun memang di khususkan untuk kepentingan seluruh bangsa dan Tanah Air bukan kepentingan komersial, dengan biaya itu rakyat yang berkunjung merasa tidak terbebani.  Padahal yang paling mencenganggkan, diluar sepengetahuan kita, ternyata Soeharto ketika itu mengeluarkan surat keputusan presiden yang memerintahkan kepada Jasa Marga untuk memberikan kepada Taman Mini Rp. 50 pada setiap mobil yang melintasi gerbang tol TMII. [11] Keputusan itu diambil tak lain untuk menutupi biaya operasional TMII membantu Yayasan Harapan Kita sebagai penaggung jawab pengelolaan. Bayangkan berapa nominal uang yang di setorkan Jasa Marga kepada Yayasan Harapan Kita jika mengakumulasikannya perhari bisa sampai ribuan mobil yang melewati gerbang tol tersebut.
Dari waktu-kewaktu pembangunan TMII senantiasa selalu tumbuh dan berkembang mengikuti arus zaman. Ketika mempersembahkan TMII kepada pemerintah, Ibu Tien Soeharto menyatakan TMII belum selesai sesuai dengan yang direncanakan semula. Kebudayaan dan kesenian Indonesia akan terus berkembang, karena itu menurut ibu Tien, pembangunan TMII dan pengisiannya tidak akan mengenal henti. [12] semakin tua arus zaman yang dilalui, semakin lengkap pengunjung dapat menikmati apa yang akan ditampilkan oleh TMII. Biasanya setiap peringatan hari jadi TMII, selalu ditandai dengan peresmian proyek-proyek baru yang akan menjamin kepuasan pengunjung. TMII akan terus melakukan inovasi-inovasi agar tak temakan usia. Pengunjungpun tak akan bosan dan henti-hentinya datang ke TMII.


[1] Mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta
[2] Yayasan Harapan Kita. Apa dan Siapa Indonesia Indah I. hal 57
[3] Suradi HP, Sutrisno Kutoyo, Masjkuri, Wahyuningsih, TA. Sukrani. Sejarah Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989 hal 9
[4] Ibid.  hal 15-16
[5] Wawancara terhadap Prof. Dr. Anhar Gonggong (saksi sejarah yang terlibat dalam Aksi penolakan TMII) Tanggal 10/11/2010 pukul 14.30-15.00 WIB di Universitas Negeri Jakarta
[6] Mahasiswa Jurusan Sejarah UGM (Sejarahwan, Dosen Sejarah Pergerakan Nasional dan Sejarah Indonesia Pasca Kemerdekaan di Universitas Negeri Jakarta 2003-sekarang)
[7] Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik UGM (Mantan Ketua PB HMI 1974-1976, Ketua DPP KNPI 1976-1984, Anggota MPR RI 1992-1994, Anggota DPR RI 1994-1999 Fraksi Golkar, Menpora 1999-2000)
[8]  Lihat Pelita I (1 April 1969 – 31 Maret 1974)
[9] Yayasan Harapan Kita. Apa dan Siapa Indonesia Indah I. hal 221
[10] BP5 “ Indonesia Indah”: Taman Mini Milik Kita, hal 1
[11] Wawancara terhadap Prof. Dr. Anhar Gonggong (saksi sejarah yang terlibat dalam Aksi penolakan TMII) Tanggal 10/11/2010 pukul 14.30-15.00 WIB di Universitas Negeri Jakarta
[12] Yayasan Harapan Kita. Apa dan Siapa Indonesia Indah I. hal 17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar